Rabu, 02 November 2011

Seputar Indonesia


MASA DEPAN SEPAK BOLA BANGSA DIATAS KERTAS PSSI
Ada kesan kuat bagi suatu negara yang ingin masa depan olahraganya maju. Terutama di bidang persepakbolaan dapat mencapai seperti apa yang diimpi-impikan. Agar tercapai, mestilah dibentuknya sebuah kepengurusan yang dipimpin oleh satu orang pemimpin dalam bidang itu. Tetapi dari dibangunnya persepakbolaan di negeri ini bukan memberikan sebuah pencapain yang diinginkan melainkan sebuah masalah yang tak kunjung mereda dan terus menyebar luas ke daerah-daerah yang bersangkutan. Hal itulah yang menjadi salah satu PR besar negara ini dalam masalah persepakbolaan. Juga dengan pemimpinnya yang dianggap tidak bejus dalam menindak lanjuti masalahnya.
Penonton yang membeludak dari pagi hingga pertandingan menjelang sebagian hanyalah jadi gelandangan disana. Tanggal 29 Desember 2010, pada final AFF kali itu, penonton dan supporter dari berbagai daerah begitu menginginkan untuk dapat melihat secara langsung menawannya permainan timnas sepak bola Indonesia yang memikat hati setiap orang di penjuru negeri ini. Tapi naas, banyak dari mereka yang terlantar, hingga jalan raya sampai halaman depan stadion menjadi hotel berbintang buat mereka. Bahkan dari detik awal sampai ditutupnya penjualan tiket masuk diwarnai kerusuhan, kekacauan, dan kegaduhan yang tak lazim. Padahal penjualan tiket masuk juga dapat menjadi tolak ukur PSSI dalam bidang administrasi.
Sepak bola full fasilitas, nihil prestasi
“Virus” pendanaan club sepak bola melalui APBD telah berlangsung bertahun-tahun. Virus ini bertambah parah dan menyebar ketika orde reformasi dimulai. Awalnya sesuai dengan "kapasitas" keuangan Pemda/Pemkot dan  gerojokan dana APBD hanya berkisar ratusan juta rupiah untuk masing-masing klub sebelum melonjak menjadi miliaran rupiah di sekitar tahun 2000 dan meningkat hingga 10 kali lipat ketika beberapa klub meminta dana APBD senilai 20Miliar lebih sekitar 2-3 tahun yang lalu.
LSI (Liga Super Indonesia) sebagai liga teratas di bumi pertiwi ini disebut-sebut telah melakukan kecurangan akan administrasi persepakbolaan di Indonesia. “Nurdin Halid”, ya.. ketua umum PSSI yang telah selesai masa jabatannya pada tahun 2011 ini dianggap sebagai propokatornya. LSI yang bisa mengadakan kompetisi seperti itu, masih membebankan biaya operasional klub pada APBD. Benarkah LSI bergelimang uang??? Para pengurusnya menolak akan hal itu, mereka mengklaim malah merugi. Jika benar merugi, pertanyaannya sederhana saja. Kenapa LSI terus bergulir? Siapa yang mau terus menerus menyokongnya?
Beberapa kali terdengar keluhan bahwa PT Liga Indonesia atau PSSI belum membayar fee atau hadiah yang dijanjikan kepada klub-klub peserta di LSI. Bahkan PSSI juga menyebutkan bahwa biang minimnya prestasi persepakbolaan Indonesia dalah karena kurangnya fasilitas. Hal itu membuat Pemerintah yang disalahkan dimana pemerintah yang memegang peran dalam pengelolaan stadion kebanggan Indonesia “Gelora Bung Karno (GBK)”. Dari Beberapa laporan yang menyebutkan, PT Djarum sebagai sponsor utama LSI, menggelontorkan ratusan miliar rupiah per satu putaran kompetesi. Beberapa perusahaan sponsor pendukung juga membayar mahal, begitu juga harga jam tayang siaran televisi yang telah di kontrak. Semua dana itu masuk ke PT Liga Indonesia yang dimiliki oleh PSSI dan beberapa pengurusnya. Lalu yang dipermasalahkan adalah, kemana perginya uang sponsor hasil memutar kompetisi yang berlangsung setiap tahun itu. Dan banyak klub yang tidak mendapat jatah sebagaimana mestinya. Hal itulah yang menjadi sebab tidak pernah jelasnya keuangan PSSI. Intinya semua itu tidak lepas dari jeratan politik yang berbau korupsi tak berpolisi.
Dalam hal itu jika dari dahulu pemerintah pusat menangani masalah ini, mungkin tidak akan seburuk sekarang ini. Dibutuhkan seorang yang bergerak cepat dalam menyeleseikan suatu masalah agar tidak meluas dan mempersulit penyeleseiannya. Tapi semua itu tidak sepenuhnya salah dari pusat, karena lucunya, orang yang dianggap sumber masalah sendiri tidak mau turun jabatan.
Akhirnya yang mengerti moncoba menyaingi
Saking ruwetnya masalah PSSI terhadap LSI, muncullah sesosok Arifin Panigoro yang ingin menyaingi liga paling professional di Indonesia itu dengan salah satu liga yang didirikannya yaitu LPI (Liga Primer Indonesia), dengan maksud agar klub-klub di LSI pindah dan bergabung dengan LPI agar tidak terlilit masalah yang ada di LSI. Dengan cara LPI menjanjikan transparansi dan profesionalisme pengelolaan dana. PT Liga Primer Indonesia selaku penyelenggara LPI mensubsidi klub-klub untuk berkembang. LPI juga menegaskan diri, tidak akan menggunakan dana APBD untuk menggerakkan kompetisi bermutu.
Belum lama berdiri, bertambahlah masalah PSSI yang semakin menumpuk dan semakin ruwet. Karena dalam Statuta FIFA, tidak boleh ada dua liga profesional dengan derajat yang sama dalam satu asosiasi sepakbola yang berafiliasi kepada badan sepak bola tertinggi di dunia. Maka dari itu FIFA akan mengeluarkan sanksi untuk PSSI jika tidak dapat menyeleseikan hal ini. Sehingga dalam hal ini PSSI mulai bergerak sampai pada pengadaan kongres untuk memilih ketua umum menggantikan Nurdin Halid meskipun tidak selancar apa yang diharapkan yang pada waktu itu diadakan tiga kali kongres karena dua kali kesempatan yang diberikan FIFA berakhir memalukan. Dan masalah LPI masih belum terseleseikan hingga sekarang.
Baru menjabat sebagai ketua umum PSSI. Baru-baru ini muncul masalah yang menakutkan bagi persepakbolaan Indonesia. Pelatih timnas Indonesia Alfred Riedl yang telah membawa Indonesia sampai ke runner up pada Piala AFF Suzuki Cup 2010 dipecat oleh PSSI dengan seenaknya. Pelatih berkebangsaan Austria itu seharusnya melatih timnas sampai pada tahun 2014 sesuai masa kontraknya. Dan dia mengancam bahwa dia akan melaporkan PSSI pada FIFA. Dan itu masih berlanjut hingga sekarang. Hal semacam itu membuat persepakbolaan Indonesia kembali disoroti akan sisi negatifnya disamping melonjaknya prestasi Indonesia saat ini.
Dari Opini-opini yang ada, kita sebagai generasi muda dapat mengambil manfaat dari situasi yang ada. Bahwa adanya pemimpin yang tidak peduli akan masa depan bangsanya dan hanya mementingkan kesejahteraan individu hanya akan membuat negara semakin terpuruk.
Tidak melulu didominasi untuk popularitas dan kepentingan-kepentingan pragmatis lainnya. Sepak bola yang berkualitas setidaknya ditentukan oleh bagaimana seorang pemimpinnya mengatasi masalah. Sepak bola Indonesia tentu di tangan PSSI, dan kebijakannya berada di tangan ketua umum. Jangan bermimpi sepak bola Indonesia bisa setenar Brazil jika PSSI belum berbenah diri.
Mungkin dengan merumuskan kembali akan hal-hal yang merugikan/negatif untuk dihapuskan. Dapat membuat persepakbolaan nasional kembali ke masa kejayaannya dulu. Karena sepak bola juga dapat menjadi tolak ukur di masa depan akan maju tidaknya suatu negara. Semoga momen dan masalah saat ini bisa menjadi pemicu kemauan dan tekad pengurus PSSI untuk berbenah diri secara komprehensif setidaknya mulai tahun 2011 ini. Karena sepak bola juga menjadi masa depan bangsa yang harus diwujudkan dan benar-benar terorganisir dengan baik dalam kepengurusannya.